Sejarah Kelahiran Aswaja dan Kelahiran Di Indonesia

C. Prinsip-Prinsip yang Dikembangkan Aswaja

D. Sejarah Kelahiran Aswaja dan Kelahiran Di Indonesia

Sejarah kelahiran aswaja di Indonesia tidak bisa dilepaskan sejarah kedatangan di Indonesia. Secara histories Islam datang ke Indonesia pada abad ke tujuh. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya makam-makam di daerah barat di Nangroe Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Bani Umayah. Serta kabar dari cina mengenai kedatangan Ta-Cheh di daerah Kalingga (Holing) pada masa pemerintahan Szima.

Kedatangan aswaja sendiri dari perspektif histories dapat dibuktikan dengan adanya bukti-bukti sejarah yang ada, mulai adanya kabar dari Ibnu Batuta mengenai Islam yang ada di Indonesia, nama-nama raja Samudra Pasai yang cenderung sesuai dengan nama raja yang beraliran Syafi’i di Timur Tengah serta ditemukannya makam Siti Fatimah binti Maimun Leran Gresik, pada abad XI ditambah pula dengan cerita dari raja-raja / babad / tanah pada raja-raja Sunda (Banten) yang cenderung beraliran Syafi’i.

Kecenderungan aswaja yang beraliran Syafi’I, hal ini apabila perhatian lebih kapada setting kedatangan Islam di Indonesia yang ternyata Islam dating kebanyakan berasal dari daerah hadramaut dan yaman, bukan berasal dari Persia yang cenderung bermadzab Hanafi.

Sebagaimana dimaklumi Islam dikembangkan di Indonesia oleh para pedagang. Sambil berdagang para mubaligh ini menyelenggarakan pesantren-pesantren untuk membentuk kader-kader ‘ulama’-‘ulama’ yang sangat beperan dalam pengembangan Islam pada masa berikutnya. Dan salah satu tradisi dalam proses pengajaran agama Islam di pesantren adalah tradisi pengajaran melalui kajia-kajian kitab-kitab klasik “Kitab Kuning”.

Kandungan dari kitab-kitab di pesantren di indonesia khususnya di Jawa adalah kitab fiqih dari madzab Syafi’I, dengan pola pengajaran kitab fiqih madzab inilah sangat kuat pengaruhnya di Indonesia.

Di Jawa berdasarkan bukti sejarah para penyebar dan pembawa Islam khususnya daerah pesisir utara adalah para mubaligh yang diberi gelar para wali, yang sangat popular disebut wali songo. Sesuai dengan faham Islam yang dianutnya yaitu faham Ahlussunah Wal Jama’ah para wali dalam misi dan dakwahnya selalu menerapkan prinsip tawasud, tasamuh, I’tidal. Karakteristik ini tercermin dalam segala bidang baik aqidah, syari’at, akhlak, tasamuh, dan mu’amalah diantara sesama manusia. Dengan prinsip-prinsip ini cara Islamisasi di Indonesia ditempuh melalui cabang seni budaya seperti pertunjukan wayang gamelan dan seni ukir. Adat istiadat dan kebiasaan yang telah berakar dalam masyarakat juga dijadikan salah satu media dakwah. Kebiasaan sendiri dan keselamatan untuk orang-orang yang telah meninggal dunia tetap dilestarikan dengan warna keislaman. Mereka mengajarkan agama Islam dengan lemah lembut. Tanpa kekerasan menggunakan bahasa dan budaya yang telah dimiliki oleh masyarakat.

Keramah tamahan dalam berdakwah inilah yang menyentuh nurani bangsa dan mempertanda bahwa Islam adalah agama perdamaian, membawa persahabatan sesama umat semesta alam. Keramah tamahan inilah yang diwariskan para ‘ulama’ aswaja untuk diteladani dalam mengajarkan agama Islam. Demikian pula NU dalam anggaran dasar secara eksplisit dirumuskan bahwa tujuan NU adalah mengembangkan serta melestarikan ajaran Islam Ahlussunah Wal Jama’ah.

sumber : Materi MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) IPNU-IPPNU Pringsewu.

Posted on Januari 29, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: