Urgensi Media Cetak Dan Elektronik Sebagai Media Pencitraan Dan Dakwah NU

By: Abdul Rohim,S.Hum,M.Pd.I
Warga NU
(Pringsewu,15 April 2012 Pukul.12.25 WIB)

NU (Nahdlotul Ulama) dengan gerakan culturalnya yang mengakui keberagaman telah berubah menjadi organisasi keagamaan terbesar bukan saja di Indonesia bahkan di dunia.secara historis, NU merupakan organisasi keagamaan yang lahir dari kalangan pesantren yang pada waktu itu selalu gigih melawan kolonialisme.Embrio awalnya dibentuklah organisasi pergerakan yang bernama nahdlotul wathan (kebangkitan tanah air) pada 1916. Sebagai wahana social politik keagamaan kaum santri maka pada tahun 1918 didirikanlah taswirul afkar atau yang lebih dikenal dengan nama nahdlotul fikri (kebangkitan pemikiran) dan untuk memperbaiki perekonomian rakyat maka lahirlah nahdlotul tujjar (kebangkitan kaum saudagar).Karena dipandang perlu untuk membentuk suatu organisasi yang lebih mencakup dan sistematis maka setelah berkoordinasi dengan berbagai kiai maka pada 13 januari 1926 dibentuklah organisasi yang bernama nahdlotul Ulama (Kebangkitan Ulama) untuk mengantisipasi perkembangan jaman dan menciptakan kemaslahatan atau kesejahteraan umat.

Perkembangan jaman yang selalu berubah ini, memunculkan persoalan-persoalan baru dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan yang mengharuskan NU merespon persoalan tersebut.Dengan memakai manhaj ahlussunah waljama’ah (Aswaja), NU merespon permasalahan umat sebagai pola pikir dalam pengambilan setiap keputusannya. sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al- Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Aswaja sebagai manhajul fikri yang memuat salahsatu konsep tawasut yaitu NU dalam menyikapi setiap persoalan haruslah bisa bersikap tawazun (Seimbang) dan ta’adul (moderat),Implikasinya NU memandang budaya sebagai hasil dari kreasi manusia haruslah diposisikan secara wajar artinya tidak semua budaya itu buruk dan menyesatkan,selama tidak bertentangan dengan ajaran islam maka budaya ini bisa diterima bahkan dipertahankan.Maka berlakulah dalam NU sebuah kaidah “al muhafazhah ala al qadim al-shalih wal al-akhzu bil jadidi al-ashlah”, melestarikan kebaikan yang ada dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.Hal ini sesuai dengan kaidah fikih “al-adah muhakkamah” bahwa budaya atau tradisi (yang baik) bisa menjadi pertimbangan hukum.

Namun dengan konsepnya ini -dimana mempertahankan budaya/tradisi masyarakat- menjadikan NU oleh sebagian kalangan dicap sebagai islam tradisionalis,yang tidak bisa menerima pembaharuan dan banyak yang menuduh pengamalan agamanya mengandung Tahayul,Bid’ah,Kurafat, pelecehan terhadap doktrin Aswaja ,Misalnya tentang penistaan terhadap pemuka sahabat dan istri Nabi SAW. Bukhari dan Muslim dan tokoh-tokoh Sunni lainnya.Realitas ini semakin menjadi-jadi dengan semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi dikarnakan kecanggihan teknologi informasi dan terjadilah perang syaraf dimedia cetak maupun elektronik yang biasa disebut ‘Ghazwul Fikri’ (perang pemikiran) dimana terjadi bukan hanya islam versus agama lain an sich, akan tetapi islam versus islam yang saling memojokan bahkan tidak sedikit yang mengkafirkan pemahaman keagamaan yang berbeda tersebut.Mau tidak mau, NU yang berpaham ahlussunah waljama’ah haruslah segera menyikapi ini sebagai implikasi dari era teknologi informasi yang ditandai dengan begitu mudahnya manusia memperoleh informasi pengetahuan.
kemajuan teknologi informasi yang begitu cepatnya ini, yang tanpa mengenal batas ruang dan waktu sehingga dengan kecepatanya telah mengubah dunia menjadi semakin maju.Inilah zaman post industry dimana teknologi informasi memerankan peranan yang penting dalam kehidupan umat manusia bahkan menurut Collin cherry dapat dikatakan bahwa jumlah komunikasi global yang ada diperkirakan sama banyak dengan komunikas serupa selama beberapa abad lalu.

Teknologi informasi berakibat pada hubungan manusia yang tiada mengenal batas ruang dan waktu.Kejadian yang terjadi dibelahan dunia sana,bisa diketahui dan dilihat detik itu juga.Semisal kita nonton pertandingan sepak bola dunia di brazil,tanpa harus kesana,kita bisa teriak-teriak kegirangan ketika tim yang kita dukung mencetak gol persis bersamaan dengan mereka yang menonton secara langsung dilapangan brazil dan kita bisa melihat detik itu juga tim mana yang memperoleh juara.Inilah zaman yang orang-orang menyebutnya sebagai era globalisasi dimana batas sebuah wilayah menjadi semu,dimana semua orang bisa mengenal dan berkomunikasi secara cepat satu dengan yang lainnya.

Konsekuensi logisnya setiap orang harus berkompetisi pada era ini.Siapa yang tidak sanggup bersaing maka akan tersingkirkan dan berarti harus siap dinobatkan sebagai orang yang kalah dalam persaingan.Tentu sebagai umat islam yang meyakini paham ahlussunah wal jama’ah ,mestinya kita bukanlah hanya sekedar menjadi penonton atas perubahan yang cepat ini,kita tidak boleh terlelap dalam buaian mimpi-mimpi kegemilangan umat islam masa lalu,tetapi haruslah bangkit menjadi pelaku dan penggerak sejarah peradaban manusia dengan terus membaca (Iqra) fenomena kehidupan ini sehingga mampu memimpin dan memakmurkan bumi ini untuk sebuah kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat bagi umat manusia (Rohmatan lil ‘alamin).

Dari sini dapat dikatakan bahwa era globalisasi adalah era teknologi informasi yang tentunya tidak akan terlepas dari yang namanya media cetak dan elektronik sebagai sarana atau alat untuk membangun peradaban,menyebarkan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi,menjalin komunikasi yang menembus batas-batas budaya sehingga terjadilah perubahan system nilai yang belum tentu sesuai dengan nilai budaya setempat.Maka dapat dikatakan dengan adanya media ini berpengaruh besar terhadap perubahan system kehidupan masyarakat baik ekonomi,social,budaya ataupun lainya.

Sebegitu pentingkah media cetak dan elektronik ini?,saya katakan sangat penting,kita ambil contoh saja bagaimana Bush setelah runtuhnya gedung WTC (World Trade Center) berhasil membangun opini public tentang bahaya terorisme diseluruh dunia sehingga harus diperangi,ditambah lagi dengan propaganda dari Samuel huntington dengan bukunya The clash civilizations yaitu memprediksikan akan terjadi benturan peradaban -barat vs timur- maka dunia langsung melirik islam sebagai agama yang harus dicurigai,diintimidasi bahkan diperangi.Contoh yang lain dengan media elektronik yaitu radio,presiden sukarno berhasil memikat hati rakyatnya sebagai pemimpin yang kharismatik ataupun presiden soeharto berhasil mencitrakan dirinya sebagai bapak pembangunan Indonesia sehingga masyarakat terbuai sebegitu lamanya dalam kepemimpinan rezim ini.Realitas sejarah ini,menandakan bahwa media cetak maupun elektronik begitu penting dalam membuat opini building ditengah masyarakat.

Pengaruh yang luar biasa dari media cetak dan elektronik ini haruslah direspon oleh NU sebagai sebuah peluang bukanlah dianggap ancaman.Karena kalau dianggap ancaman berarti NU menafikan realitas perubahan zaman ini dan tentunya harus siap-siap menjadi hanya sekedar penonton peradaban masa ini atau mungkin akan ditinggalkan oleh warganya dan NU akan dianggap sebuah organisasi yang ada tapi seperti tidak ada (Wujuduhu ka’adamihi).Adapun Dianggap sebagai sebuah peluang berarti NU harus terjun sebagai pelaku dan penggerak untuk memberikan warna dalam era informasi ini.

Setidaknya ada dua hal kenapa NU harus menjadikan media ini sebagai peluang yaitu :

Pertama ; Sebagai sarana pencitraan diri.Tidak dapat dipungkiri secara historis NU telah berhasil membawa bangsa Indonesia ke gerbang pintu kemerdekaan,dimana kyai dan pesantren yang merupakan basis NU telah menentang bentuk kolonialisme dengan berjuang mengusir penjajahan di Indonesia ini. NU menyatakan bahwa Cinta Negara merupakan sebagian dari Iman (Hubbul waton minal iman),Pada masa kemerdekaan pun 22 Oktober tahun 1945,NU mengeluarkan Resolusi Jihad keseluruh pelosok jawa dan Madura untuk mempertahankan kota Surabaya dari agresi militer sekutu sehingga berbondong-bondonglah masyarakat menuju surabaya demi mempertahankan NKRI,sehingga pertempuran heroikpun terjadi pada 10 November yang kita kenal sekarang dengan hari pahlawan.tentu tanpa Resolusi Jihad ini NKRI belum tentu berdiri hingga saat ini.

Mungkin realitas sejarah diatas seakan dilupakan dan tidak tercatat dalam buku-buku pelajaran kemerdekaan Indonesia bahkan mungkin orang NU atau warganya saat ini belum tentu mengetahui peristiwa tersebut,sehingga dari contoh ini amatlah penting kiranya menjadikan media cetak dan elektronik sebagai sarana NU dalam mencitrakan dirinya,terhadap keputusan-keputusannya,kegiatan-kegiatannya atau yang lainnya yang berkaitan dengan kemaslahatan umat sehingga NU tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang mungkin belum paham tentang NU dan tujuan didirikannya.karenanya NU haruslah mencitrakan dirinya dihadapan publik sebagai organisasi rohmatan lil’alamin.

Kedua; Sebagai sarana dakwah.Kemajuan teknologi informasi ini mengakibatkan dakwah bukan hanya bisa dilakukan secara langsung face to face sebagaimana selama ini—walaupun tidak dipungkiri masih banyak masyarakat yang memilih dakwah secara langsung–, akan tetapi saya kira gejala saat ini telah menunjukan pergeseran dimana semakin banyak masyarakat mengakses media massa sehingga dakwahnya NU perlu dipublikasikan dalam media cetak dan elektronik.

Dakwah lewat media ini begitu penting,menurut saya setidaknya ada 4 poin yang menjadi alasan :1) Begitu merebaknya tuduhan sepihak kepada NU sebagai organisasi yang mengamalkan bid’ah,kurafat,tahayul,syirik, pelecehan terhadap doktrin Aswaja ,Misalnya tentang penistaan terhadap pemuka sahabat dan istri Nabi SAW. Bukhari dan Muslim dan tokoh-tokoh Sunni lainnya.2)Warga NU atau pun masyarakat sudah banyak mengakses media sebagai sarana untuk menggali informasi pengetahuan,3).Banyaknya budaya luar yang merusak moralitas generasi bangsa 4) keringnya spritualitas masyarakat dan merebaknya hedonism dalam kehidupan mereka.

Dengan menjadikan media cetak dan elektronik sebagai sarana dakwah, NU bisa mengcounter balik terhadap anggapan-anggapan yang mendeskreditkan NU,bisa membentengi warga NU dari pengaruh-pengaruh yang ingin merubah tradisi amaliyah NU,menyebarkan nilai-nilai moral dan spiritual yang merupakan ciri khas NU Sebagai pertahanan dari budaya-budaya global yang syarat dengan nilai-nilai konsumerisme,hedonism dan liberalism,berlakunya nilai-nilai ajaran ahlussunah wal jama’ah dalam masyarakat dan lain sebagainya.

Dua hal tentang pentingnya media ini bagi NU yaitu sebagai media pencitraan dan dakwah tentunya memerlukan sumber daya warga NU yang berkualitas dalam dunia jurnalisme baik mulai dari produktifitasnya,pengelolanya maupun yang lainya sehingga tujuan dari media ini bisa berhasil. Karenanya ini merupakan kebutuhan yang mendesak dimana NU sebagai organisasi kader harus menyiapkan pendekar-pendekar jurnalis nya semenjak dini.

Posted on Mei 20, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: