Prinsip-Prinsip yang Dikembangkan Aswaja

B. Pengertian dan dalil Ahlussunah Wal Jama’ah

C. Prinsip-Prinsip yang Dikembangkan Aswaja

Pada masa nabi perbedaan pendapat sudah terjadi, sayid Ali menceritakan ada dua orang yang tidak memperoleh air wudhu dalam bepergian lalu keduanya bertayamum untuk melakukan sholat, dalam perjalanan mereka menemukan air, sedang yang lain tidak. Kejadian ini dilaporkan kepada nabi Muhammad SAW, beliau bersabda bagimu pahala dan bagi yang mengulangi sholatnya “baginya pahala dua kali”.

Demikian sikap nabi dalam menghadapi perbedaan pendapat bijaksana dan toleran selama tidak menyimpang dari nash, yang ada sikap tasamuh (toleran) ini dikembangkan para sahabat setelah nabi wafat, demikian juga para imam mujtahidin juga mewarisi semangat tasamuh dan meluaskannya ditengah ketajaman ihtilaf. Contohnya Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i bersedia sholat dibelakang imam di Madinah yang tidak membaca basmallah, baik siri maupun jahr (tersembunyi maupun tampak) padahal kedua imam itu mengharuskan pembacaan basmallah pada Al Fatihah.

Sikap tasamuh terhadap perbedaan pendapat diaktualisasikan oleh nahdlotul ‘ulama’ dalam sikap kemasyarakatannya. Dalam bukunya khittoh nahdliyah kyai Haji Ahmad Shiddiq merumuskan sikap dasar atau karakter Ahlussunah Wal Jama’ah yaitu:

1. Tawasud (garis tengah) dan I’tidal (garis lurus)
Sikap tengah yang berintikan prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Dengan sikap ini NU selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan berlaku serta bertindak lurus dan dengan selalu membangun dan menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatoruf / ekstrim (keras).

2. Tasamuh
Sikap toleran terhadap perbedaan-perbedaan baik masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifatfuru’iyah atau masalah khilafiyah serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.

3. Tawazun
Sikap seimbang dalam berkhitmad menyelaraskan berhikmah terhadap Allah SWT, hikmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya, menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

4. Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik dan bermanfaat dan menolak setiap hal yang dapat merugikan dalam kehidupan kini dan esok.

Dengan demikian system bermadzab yang dianut oleh Nahdlotul ‘Ulama’ telah membentuk kepribadian sebagai organisasi yang berprinsip :

a) Prinsip penggunaan Al Qur’an dan sunnah secara luas dalam upaya memahami dan mengamalkan ajaran agama.

b) Prinsip selalu berpijak kepada kebenaran sesuai dengan prinsip-prinsip Rosulullah SAW, para sahabat, dan salafus sholihin (khususnya madzab empat).

c) Prinsip keberlangsungan ijtihad sebagaimana di syaratkan oleh konsep Al Qur’an, sunnah, ijtihadnya Muadz bin Jabal dan ungkapan klasik Ahlussunah Wal Jama’ah. Artinya : memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik.

d) Prinsip toleransi dalam perbedaan pendapat dalam arti yang umum. Artinya : Barang siapa yang berpendapat (berijtihad) dan benar, maka (dianggap benar) dan mendapat dua pahala, tapi bagi yang salah (dianggap salah) dan mendapat satu pahala (penghargaan).

Memahami penjelasan diatas dapat disimpulkan, untuk melestarikan, mempertahankan, mengamalkan dan mengembangkan aswaja, Nahdlotul ‘Ulama’ berpegang teguh pada system bermadzab:

a) Dalam bidang aqidah mengikuti madzab yang dipelopori imam Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidzi.

b) Dalam bidang fiqih mengikuti salah satu madzab empat (Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali).

c) Dalam bidang akhlak / tasawuf mengikuti madzab imam Junaidi al Baghdawi dan imam Ghozali.

D. Sejarah Kelahiran Aswaja dan Kelahiran Di Indonesia

sumber : Materi MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) IPNU-IPPNU Pringsewu.

Posted on Juni 21, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Prinsip-Prinsip yang Dikembangkan Aswaja.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: