Gadis Yang Jujur ; Kisah Teladan

Seorang gadis sedang memerah susu kambing bersama ibunya. Susu itu menjadi sumber nafkah kehidupan mereka. “hasil susu kita makin hari makin sedikit saja,” kata sang ibu. “tak cukup untuk keperluan kita”.
“kambing-kambing ini kurang makan karena rumput-rumput mengering pada musim panas” kata gadis itu. “Oleh karena itu, air susunya sedikit”.
“Kita campur saja susu ini dengan air, biar bertambah banyak. Dengan begitu, penghasilan kita akan bertambah” kata sang ibu. “tidak ibu, khalifah umar melarang kita berdagang secara tidak jujur” jawab si gadis. “ah ….. biar saja! Khalifah umar toh tidak tahu kita tidak jujur” sergah sang ibu.
“tetapi Allah Mahatahu. Kita boleh tidak takut pada khalifah umar, tetapi hendaknya kita takut kepada Allah yang mengetahui kecurangan kita”.
Pembicaraan gadis dan ibunya itu didengar oleh seorang laki-laki berjubah usang yang kebetulan lewat di dekat rumah mereka. Laki laki itu adalah Khalifah Umar yang menyamar dan berjalan-jalan untuk melihat keadaan rakyatnya.
Ketika khalifah pulang, ia menceritakan peristiwa itu kepada putranya, ashim. “nikahilah gadis jujur itu,” kata khalifah umar kepada ashim. “semoga dari dia akan lahir orang besar yang kelak memimpin bangsa arab”.
Ashim bin umar kemudian menikahi gadis pemerah susu itu. Ternyata harapan khalifah umar menjadi kenyataan. Pasangan ini melahirkan seorang anak perempuan. Anak perempuan itu (cucu umar) kemudian menikah dengan abdul aziz bin marwan. Anak mereka bernama umar juga. Lengkapnya umar bin abdul aziz. Dikemudian hari, umar bin abdul aziz menjadi seorang khalifah yang terkenal. Memerintah dengan adil dan bijaksana. Ia juga rendah hati dan tegas dalam bertindak sebagaimana kakek buyutnya, khalifah umar bin khattab.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa umar bin abdul aziz dikategorikan sebagai khulafaurrasyidin yang kelima karena keberanian, kesalehan dan kewarakannya. Ia merupakan khalifah dari bani umayyah yang menjabat pada tahun 99 sampai dengan 101 hijriah.

Sumber :
Buku: mengenal sejarah kebudayaan islam, untuk kelas 6 madrasah ibtidaiyah.
Penerbit : PT. Putratama Bintang timur, Surabaya. 2004.

Posted on Juli 11, 2012, in kisah teladan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: